Buku Tamu  ::   Surat Pembaca  ::   Kontak Kami  ::   

Informasi dan Undangan Liputan 0816 148 6092

Berita


Kamis, 27 Januari 2011 23:41

Lukisan Gaib Perang Bubat

Panah Emas Menancap Di Dada Gajah Mada

Lukisan Gaib Perang Bubat | Foto: Cay

Bogor | WARTA PAKWAN

SELAIN aktif dalam ngaguar sejarah dan melakukan napak tilas di sejumlah patilasan Kerajaan Pajajaran yang terserak di wilayah Bogor, Dede H.Permanadikusumah juga sudah menghasilkan lima

Lukisan Gaib Timbul Tenggelam Saling Berkaitan.

Disebut lukisan gaib karena Dede tidak bisa melukis, namun ketika ada gerakan dan Kehendak dari Yang Kuasa Suci Ning Gusti Anu Maha Suci, maka Dede pun mulai melukis di atas kanvas. Cat minyak dan beragam warna ditorehkan melalui guratan tangan. Namun begitu, Dede tetap dalam keadaan eling. Bukan kasarumahan atau kemasukan.

Lima lukisan gaib yang sudah rampung terdiri dari tiga lukisan gaib sagajang bertitel Masa Keemasan Pajajaran, Pasukan Elit Pajajaran, dan Kabuyutan Pajajaran. Lalu ada lukisan Ibu Dewi Laut Selatan, dan terakhir yang baru saja selesai, yaitu Lukisan Gaib Timbul Tenggelam Saling Berkaitan berjudul Perang Bubat.

Lukisan gaib ini berkisah tentang Kerajaan Pasundan (Pajajaran) dan Majapahit dalam mimpi misteri yang dialami dan diwujudi Si Pelukis, yaitu Dede H Permanadikusumah sebagai Putra Mahkota Galuh Pakwan. Di dalam mimpi misterinya, Putra Mahkota diperlihatkan mengikuti awal dan berakhirnya Perang Bubat.

Secara garis besarnya, Putra Mahkota sedang menyaksikan dua orang yang bertempur dengan sengit. Dari pihak Sunda, menunggang Kuda Putih, dan dari pihak Majapahit menunggang Kuda Hitam.

Siapakah kedua penunggang kuda itu? Penunggang kuda hitam tak lain Maha Patih Gajah Mada. Sedangkan penunggang kuda putih adalah seorang Patih dari Sunda yang memakai atribut lengkap kerajaan. Dari awal, pihak Sunda datang untuk bersilaturahmi dan menyatukan kembali tali darah persaudaraan karena Raja Hayam Wuruk mempunyai darah Sunda. Ini sebabnya, Putri Diah Pitaloka mau menerima pinangan Raja Majapahit.

Karena datang bukan untuk menguasai Majapahit, dan bukan untuk berperang, apalagi seorang putri dari kerajaan besar dan bukan kerajaan taklukan. Sudah tentu ada syaratnya. Apa itu? Raja Majapahit harus mau menjemput Putri Diah Pitaloka, dan Raja Sunda Prabu Lingga Buana di perbatasan Tegal Bubat.

Syarat ini sebetulnya tidak menjadi masalah bagi Raja Hayam Wuruk. Akan tetapi, ada intrik dan sifat licik dari seorang Maha Patih Gajah Mada. Dia (Gajah Mada) ingin menaklukan Kerajaan Sunda, karena faktanya dari semua kerajaan di Nusantara pada waktu itu hanya Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang TIDAK BISA dan TIDAK PERNAH BISA ditaklukan oleh armada perang Majapahit.

Maka, momen kedatangan rombongan dari Kerajaan Sunda ini dimanfaatkan oleh Gaja Mada untuk menundukkan Sunda dengan dalih untuk Menyatukan Nusantara. Tetapi, niat Gajah Mada tidak berhasil dikarenakan Pihak Sunda dan Putri Diah Pitaloka menjaga kehormatan Kerajaan Sunda, tidak mau langsung datang ke Kerajaan Majapahit. Hayam Wuruk sendiri yang harus mau datang dan menjemput langsung calon permaisurinya di Tegal Bubat.

Kondisi ini dipolitisir dan dijadikan alasan bagi Gajah Mada untuk menyerang rombongan Kerajaan Sunda. Gajah Mada berdalih, Hayam Wuruk tidak perlu datang menjemput ke Tegal Bubat. Dia menganggap sebelah mata Kerajaan Sunda.

Akhirnya, Gajah Mada pun menggempur rombongan Kerajaan Sunda dan terjadilah peperangan yang sengit di Tegal Bubat. Pada momen itulah, Putra Mahkota bermunajat kepada Kehendak Yang Kuasa Suci Ning Gusti Yang Maha Suci....Perang Harus dihentikan dengan cara apa? Lalu tak lama berselang, Putra Mahkota mengacungkan dan melepaskan busur panah terbuat dari emas ke atas langit. Lalu Putra Mahkota melihat busur panah berputar melayang-layang di udara sebelum  akhirnya  menghujam dengan cepat dan menancap di dada kiri Gajah Mada.

Namun Gajah Mada tidak mati. Setelah itu, Gajah Mada dan Patih dari Kerajaan Sunda lalu menghampiri Putra Mahkota seraya menundukkan kepala mereka. Gajah Mada merasa malu dan dia menyesali perbuatannya. Dia menyadari kesalahan dan keserakahannya dalam memperluas daerah kekuasaan Majapahit. Lalu Gajah Mada berpamitan kepada Putra Mahkota.

Tinggalah Patih dari Sunda. Tak lama, wajah Sang Patih berubah parasnya menjadi seorang Raja yang memakai Mahkota dan memberikan Keris Kujang Pusaka kepada Putra Mahkota. Padahal, Putra Mahkota sendiri sudah memiliki Kujang Ciung berlubang sembilan.

Itulah garis besar mimpi misteri yang dialami Si Pelukis Dede H. Permanadikusumah pada saat beranjak remaja. Jaraknya belasan tahun, karena Lukisan Gaib Timbul Tenggelam Saling Berkaitan berjudul Perang Bubat baru saja selesai, pertengahan Januari 2011. Sementara sang pelukis, Dede sudah dilakonkan sebagai Putra Mahkota dalam mimpi misteri sejak masih anak-anak hingga beranjak remaja.

Kepada Warta Pakwan, Dede mengatakan Lukisan Gaib Perang Bubat merupakan simbol agar kita semua bisa mengendalikan hawa nafsu dan tidak serakah. ”Dahulu memang ada peristiwanya dan terjadi. Nah, dalam konteks kekinian. Perang bubat bisa juga dimaknai untuk memerangi hawa nafsu kita. Maksudnya supaya bisa dikendalikan oleh hati yang suci. Supaya kita semua bisa menjalankan tekad, ucap, dan lampah anu bener,” pesan Dede.

Ermawan

Social Bookmarks (sp_socialbookmarks): Could not open file "".

Komentar

Tidak ada data diketemukan

Belum ada yang berkomentar

Tambah Komentar

Adding an entry to the guestbook
CAPTCHA image for SPAM prevention