Buku Tamu  ::   Surat Pembaca  ::   Kontak Kami  ::   

Informasi dan Undangan Liputan 0816 148 6092

Berita


Selasa, 22 Juli 2014 17:17

Dayeuh Luhur, Sumedang

Patilasan Patih Padjadjaran Jadi Tempat Pamentaan

Seorang peziarah bermunajat di Patilasan Patih Padjadjaran, Jaya Perkasa di Dayeuh Luhur, Sumedang. Foto: Cay

Sepenggal kisah Tim Ekspedisi Warta Pakwan yang bertujuan untuk memberikan himbauan kepada umat guna meningkatkan nilai-nilai keimanan dan ketauhidan. Kisah seputar Kerajaan Sunda Padjadjaran tidak pernah lepas dari sosok Prabu Siliwangi, dan para Patihnya yang setia.

Di Sumedang terdapat salah satu tempat patilasan dari empat orang Patih tersebut yang dulu ketika Kerajaan Padjadjaran mulai runtuh di masa pemerintahan Prabu Siliwangi yang terakhir, dimana empat patih tersebut mendapatkan tugas untuk menitipkan Mahkota Binokasih ke SumedangLarang. Salah satu patih yang terkenal adalah Patih Jaya Perkasa atau Sanghiang Hawu.

Di daerah Dayeuh Luhur, Sumedang terdapat patilasan Patih Jaya Perkasa yang diyakini dulunya sebagai tempat bersemedi keempat patih tersebut. Artinya, Dayeuh Luhur bukan pusat kerajaan Sumedang Larang. Di zaman sekarang berhati-hatilah dalam memahami sesuatu yang sifatnya sejarah, apalagi di bubuhi mitos-mitos dan kepercayaan semu terhadap sesuatu yang sifatnya gaib.

Kini situs sejarah Patilasan Patih Jaya Perkasa beralih fungsi, dan menjadi tempat bermohon dan mendapatkan barokah dari tempat tersebut. Hal ini sangat disayangkan sekali bahwasannya keimanan dan ketauhidan mereka yang mengharap berkah tergadaikan di tempat yang dikeramatkan ini dan menjadikan dirinya melakukan musrik samar yang lambat laun menjadikandirinya ada dalam kemusrikan.

Bermohonlah dengan benar, yaitu dengan tata cara mensucikan diri terutama kalbu atau hati yang selalu dipimpin oleh kesucian dan alam rasa, rasa kesucian. Adapun tempat-tempat patilasan atau makam-makam yang dikeramatkan tidak dijadikan sarana atau obyek vital tempat bermohon, dan meminta berkah.

Jadikanlah patilasan sesuai dengan fungsinya, yaitu symbol atau tempat orang-orang dulu yang mencintai bumi pertiwinya, dan rela mati untuk kejayaan negaranya. Sepatutnya kita contoh dari keempat Patih Pajajaran ini dalam membesarkan Kerajaan Padjadjaran dan Sumedang Larang penuh dengan Pengabdian.

Kini, sungguh ironis sekali tempat patilasan ini dijadikan obyek mencari berkah dan meminta macam-macam keinginan, harta, tahta dan wanita. Apalagi ada informasi bahwa sejumlah pejabat dan para caleg sebelum Pileg 2014 lalu, juga ada yang bermunajat di patilasan ini dengan keinginan supaya maksudnya dikabulkan. Berhati-hatilah dan selalu eling serta waspada bahwasanya setan selalu menggoda di segala arah, terutama hati manusia.

Mudah-mudahan para pemimpin Negara kita yang sekarang ini bisa mencontoh sifat-sifat baik dan melaksanakan tugasnya dengan penuh amanah, dan pengabdian yang sangat tinggi seperti empat Patih Sunda Padjadjaran ini yang rela mati demi menjaga kedaulatan Negara dan kerajaannya.

Dan janganlah, sebuah tugas pemerintahan dijadikan obyek dalam mencari harta kekayaan yang menjadikan dirinya serakah dalam kepemimpinannya, dan akhirnya lupa akan tugas dan pengabdiannya kepada Negara.

Maka dari itu, tingkatkanlah keimanan dan ketauhidan kita semua supaya tidak tergoda oleh hal-hal yang sifatnya merusak diri, agama, dan negaranya. Berserahlah kita semua kepada Kehendak yang kuasa suci ning gusti yang maha suci. Mudah-mudahan keimanan dan ketauhidan kita selalu terjaga oleh Allah SWT.***

Social Bookmarks (sp_socialbookmarks): Could not open file "".

Komentar

Tidak ada data diketemukan

Belum ada yang berkomentar

Tambah Komentar

Adding an entry to the guestbook
CAPTCHA image for SPAM prevention